Pintasan.co – Kementerian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan komitmen impor minyak mentah dari Rusia sebesar 150 juta barel akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menjelaskan bahwa skema bertahap diperlukan karena keterbatasan fasilitas penyimpanan (storage) di dalam negeri.

“Impornya akan dilakukan secara bertahap,” ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

Menurutnya, minyak yang diimpor tidak hanya digunakan untuk kebutuhan transportasi masyarakat, tetapi juga untuk sektor industri, pertambangan, hingga bahan baku petrokimia.

“Untuk pemenuhan kebutuhan sampai akhir tahun. 150 juta barel,” ucap Yuliot.

Ia mengungkapkan, kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kondisi ini membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari dari berbagai negara.

Ia mengungkapkan, kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kondisi ini membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari dari berbagai negara.

“Berarti kita impor sekitar 1 juta barel, kurang lebih. Kalau dikalkulasikan (sepanjang tahun) 150 juta itu juga kurang. Kita mencari tambahan dari negara-negara lain, termasuk yang dari Amerika,” katanya.

Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menyebut bahwa komitmen impor ini merupakan hasil kunjungan Prabowo Subianto ke Moskow.

Dalam pertemuan tersebut, Rusia awalnya menyepakati pengiriman 100 juta barel minyak dengan harga khusus. Jika masih diperlukan, pasokan dapat ditambah hingga total 150 juta barel untuk membantu Indonesia menghadapi gejolak energi global.

“Dia ke Moskow ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin,” ujar Hashim.

Dengan adanya kerja sama ini, Rusia menjadi salah satu alternatif pemasok energi bagi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Baca Juga :  Dinas ESDM Sulsel Butuh Laboratorium untuk Dorong Peningkatan PAD