Pintasan.co – Musisi sekaligus dokter bedah plastik, dr. Tompi, menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki persoalan pribadi dengan komika Pandji Pragiwaksono.

Pernyataan ini disampaikan menyusul polemik materi stand up comedy Pandji yang menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pertunjukan bertajuk Mens Rea.

Tompi menekankan bahwa hubungan pertemanannya dengan Pandji tetap terjalin dengan baik, meskipun keduanya kerap memiliki pandangan berbeda dalam isu politik. Ia memastikan kritik yang disampaikannya murni bersifat pandangan pribadi, bukan dilandasi konflik personal.

“Saya dan Pandji itu berteman. Walaupun dalam urusan politik tidak selalu satu jalur, tapi kami baik-baik saja. Tidak ada urusan pribadi sama sekali,” ujar Tompi saat memberikan keterangan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (5/1).

Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah bekerja sama dan berdiskusi dengan Pandji, termasuk membahas isu-isu politik. Setelah menyaksikan pertunjukan stand up comedy berdurasi lebih dari dua jam tersebut, Tompi mengaku secara umum sepakat dengan pesan yang disampaikan Pandji mengenai kondisi politik nasional.

“Secara keseluruhan saya setuju dengan kegelisahan yang dia sampaikan. Itu kegelisahan kita bersama dan disampaikan dengan baik. Hanya ada satu hal yang saya sayangkan,” kata Tompi.

Menurut Tompi, kritik terhadap tokoh publik seharusnya diarahkan pada kinerja, kebijakan, atau sikap politik, bukan pada kondisi fisik. Ia menilai candaan yang menyerang penampilan seseorang berpotensi mengaburkan substansi kritik itu sendiri.

Sebagai dokter bedah plastik, Tompi menjelaskan bahwa tampilan mata Gibran yang kerap disebut terlihat mengantuk merupakan kondisi medis bawaan yang dikenal dengan istilah ptosis. Kondisi tersebut terjadi akibat otot pengangkat kelopak mata yang turun, sehingga bukaan mata tidak maksimal.

Baca Juga :  Kemenkumham Jateng Fasilitasi Penyelarasan Raperbup Terkait Tunjangan DPRD Kabupaten Purworejo

“Ptosis itu kondisi anatomis bawaan. Pada kasus orang dewasa seperti Pak Wapres, tingkatnya tidak berat dan tidak mengganggu secara signifikan,” jelasnya.

Sebelumnya, pernyataan Tompi ramai diperbincangkan setelah ia mengunggah pandangannya di akun Instagram pribadinya @dr_tompi. Dalam unggahan tersebut, ia menyebut bahwa menjadikan kondisi fisik sebagai bahan tertawaan bukanlah bentuk kritik yang cerdas.

“Kritik boleh, satire boleh, humor sah. Tapi merendahkan kondisi tubuh seseorang itu bukan kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” tulis Tompi.

Unggahan tersebut pun mendapat respons langsung dari Pandji Pragiwaksono. Melalui kolom komentar, Pandji justru menyampaikan apresiasi dan menyatakan terbuka terhadap masukan yang disampaikan Tompi.