Pintasan.co, Jakarta – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Iran saat ini berada di bawah kekuasaan tirani. Pernyataan itu dia sampaikan dalam rapat kabinet, Minggu (11/1/2026), saat membahas gelombang demonstrasi besar yang melanda Iran sejak akhir Desember.
Netanyahu menyatakan Israel terus memantau perkembangan situasi di Iran. Dia berharap rakyat Iran dapat segera terbebas dari tekanan pemerintahan yang mengekang dan pada akhirnya kembali menjalin hubungan baik dengan Israel demi masa depan yang damai dan sejahtera bagi kedua negara.
“Kami berharap bangsa Persia dapat melepaskan diri dari belenggu tirani. Ketika itu terjadi, Israel dan Iran bisa kembali menjadi mitra dalam membangun kemakmuran dan perdamaian,” ujar Netanyahu dalam rapat tersebut, dikutip dari AFP.
Pernyataan ini muncul setelah parlemen Iran memperingatkan Israel dan Amerika Serikat agar tidak mencampuri urusan dalam negeri Teheran. Iran bahkan mengancam akan menyerang Israel dan pangkalan militer AS jika terjadi intervensi.
Menanggapi hal tersebut, militer Israel menegaskan pihaknya masih menganggap situasi di Iran sebagai persoalan internal. Meski begitu, Israel menegaskan kesiapan untuk merespons dengan kekuatan penuh apabila Iran melancarkan serangan.
Gelombang protes di Iran bermula dari krisis ekonomi, lalu berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Aparat keamanan Iran merespons demonstrasi dengan tindakan keras, sementara massa dilaporkan membakar gedung pemerintah dan fasilitas umum.
Kelompok hak asasi manusia mencatat lebih dari 500 orang tewas dan lebih dari 10.600 orang ditangkap selama aksi protes yang terjadi di berbagai provinsi. Seiring meningkatnya eskalasi, pemerintah Iran juga memutus akses internet sejak Kamis (8/1/2026).
Amerika Serikat dan Israel sejak awal menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran untuk menjatuhkan rezim Khamenei. Presiden AS Donald Trump bahkan mengaku tengah mempertimbangkan langkah tegas terhadap Iran, termasuk opsi serangan militer.
