Pintasan.co – Pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) kembali menyampaikan kabar duka atas wafatnya salah satu personel TNI yang bertugas di Lebanon selatan.

Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat luka serius yang dideritanya dalam serangan pada akhir Maret lalu.

Dalam pernyataan resminya, UNIFIL mengungkapkan bahwa Praka Rico mengembuskan napas terakhir setelah hampir satu bulan dirawat di rumah sakit di Beirut. Luka yang dialaminya berasal dari ledakan proyektil yang menghantam markas tempat ia bertugas.

“UNIFIL prihatin atas wafatnya Praka Rico Pramudia, yang terluka parah akibat sebuah ledakan proyektil di markasnya di Adchit Al Qusayr pada 29 Maret malam,” kata UNIFIL dalam pernyataannya di platform X.

Pihak UNIFIL juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga almarhum, rekan-rekan sesama prajurit, serta pemerintah dan rakyat Indonesia. Duka tersebut secara khusus ditujukan kepada TNI Angkatan Darat sebagai kesatuan tempat Praka Rico bertugas.

Seiring meningkatnya insiden yang menimpa pasukan penjaga perdamaian, UNIFIL kembali menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap hukum internasional. Mereka menuntut seluruh pihak yang terlibat konflik untuk menjamin keselamatan personel dan fasilitas PBB.

“Serangan yang disengaja terhadap personel penjaga perdamaian adalah pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, dan kemungkinan juga merupakan kejahatan perang,” demikian pernyataan UNIFIL.

Wafatnya Praka Rico menambah daftar panjang prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon selatan dalam kurun waktu singkat. Sebelumnya, Praka Farizal Rhomadhon meninggal dunia dalam serangan artileri pada 29 Maret, yang juga menjadi awal dari luka serius yang dialami Praka Rico.

Tak lama berselang, dua prajurit lainnya, yakni Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan, turut gugur saat menjalankan tugas pengawalan konvoi yang diserang pada 30 Maret. Serangkaian insiden tersebut juga menyebabkan sejumlah prajurit lainnya mengalami luka-luka.

Baca Juga :  TNI Siapkan 1.000 Alutsista dan 100 Ribu Prajurit untuk Parade HUT Ke-79 di Monas

Situasi keamanan di Lebanon selatan sendiri dilaporkan semakin memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Tidak hanya Indonesia, negara lain seperti Prancis juga kehilangan personelnya dalam serangan terhadap patroli pasukan penjaga perdamaian.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa misi perdamaian internasional tetap menghadapi risiko tinggi, terutama di wilayah dengan konflik yang terus bereskalasi.