Pintasan.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau tahun 2026 akan memiliki karakteristik lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir. Selain itu, periode kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih lama dari biasanya.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab, menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak serta-merta berarti kemarau tahun ini menjadi yang paling ekstrem sepanjang sejarah.

“Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun,” kata Fachri dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Ia juga meluruskan berbagai informasi yang beredar di masyarakat yang menyebut kemarau 2026 sebagai fenomena ekstrem dengan istilah seperti “Kemarau Godzila” atau “El Nino Godzila”. Menurutnya, istilah tersebut tidak digunakan oleh BMKG dan cenderung berlebihan.

Fachri menegaskan bahwa jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, kemarau pada 1997 dan 2015 masih tergolong jauh lebih ekstrem. Meski begitu, kondisi tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan tahun 2023.

Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah kemunculan El Nino yang diperkirakan mulai aktif pada akhir April hingga awal Mei 2026. Fenomena ini berdampak pada penurunan intensitas curah hujan di sebagian wilayah Indonesia.

“Perlu pula diketahui El Nino dan musim kemarau itu kedua barang yang berbeda gitu ya. Walaupun El Nino mempengaruhi intensitas dari musim kemarau, tapi musim kemarau bukan karena ada El Nino, bukan gitu ya,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara tropis tetap mengalami musim kemarau setiap tahun, terlepas dari ada atau tidaknya El Nino.

“Karena kemarau tahun ini berbarengan dengan aktifnya El Nino, sehingga curah hujannya relatif lebih sedikit. Saat ini intensitas El Nino masih dalam kategori lemah,” ucap Fachri.

BMKG memproyeksikan intensitas El Nino akan meningkat menjadi kategori moderat pada triwulan III 2026, yakni sekitar Agustus hingga Oktober.

Baca Juga :  Kawasan Pesisir Didorong Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Cuaca Ekstrem

Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik dalam menyikapi kondisi ini. Fachri menekankan pentingnya langkah mitigasi bersama, terutama untuk menjaga ketersediaan air bersih dan keberlangsungan sektor pertanian.

“Sekali lagi kami sampaikan bahwa memang tahun ini musim kemarau kita relatif lebih kering dibandingkan dengan rata-ratanya, kemudian ada fenomena El Nino gitu ya. Tapi El Nino itu hanya ada El Nino lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat gitu ya, jadi tidak ada El Nino-El Nino lain, tidak ada El Nino Pokemon, tidak ada El Nino King Kong itu nggak ada ya,” ujarnya.