Pintasan.co – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memaparkan sembilan strategi utama pemerintah dalam mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional melalui transformasi menyeluruh di sektor pertanian.
Menurut Amran, target swasembada yang sebelumnya diproyeksikan tercapai dalam empat tahun kini berhasil dipercepat menjadi satu tahun berkat langkah-langkah strategis yang terukur.
“Target swasembada pangan nasional yang semula diproyeksikan dalam waktu empat tahun berhasil dipercepat menjadi satu tahun melalui transformasi menyeluruh yang dijalankan Kementerian Pertanian,” kata Amran di Jakarta, Rabu.
Strategi pertama dimulai dari reformasi kebijakan dan regulasi dengan menyederhanakan ratusan aturan serta menerbitkan sedikitnya 16 Peraturan Presiden dan Instruksi Presiden untuk mempercepat produksi dan distribusi pangan.
“Kita perbaiki mulai dari kebijakan. Kebijakan regulasi kita perbaiki. Perpres-Inpres saja sampai hari ini sudah 16 Perpres-Inpres yang dikeluarkan sektor pangan untuk mempermudah pertanian kita seluruh Indonesia,” ujarnya.
Langkah tersebut juga mencakup pemangkasan 145 aturan pupuk, sehingga distribusi kini lebih cepat karena langsung dari pemerintah ke PT Pupuk Indonesia dan diteruskan ke petani.
“Sehingga distribusi pupuk dilakukan langsung dari Kementerian Pertanian ke PT Pupuk Indonesia dan diteruskan ke petani secara lebih cepat dan tepat sasaran,” kata dia.
Strategi kedua adalah reformasi tata kelola pupuk dengan peningkatan alokasi hingga 9,55 juta ton serta penurunan harga pupuk sebesar 20 persen.
“Contoh pupuk, turun 20 persen. Tidak pernah terjadi selama Republik ini merdeka. Yang kedua, volumenya kita tambah,” ujarnya.
Ketiga, pemerintah melakukan realokasi anggaran sebesar Rp3,8 triliun dari belanja non-prioritas ke sektor produktif seperti irigasi dan alat mesin pertanian.
“Kita efisiensi melalui refocusing anggaran. Contoh refocusing, biaya perjalanan dinas, biaya hotel, biaya rehab kantor yang tidak penting, kami cabut, kita dorong anggaran itu ke sektor yang produktif,” tegasnya.
Keempat, intensifikasi pertanian dilakukan melalui penggunaan benih unggul dan pompanisasi yang menjangkau ratusan ribu hektare lahan.
“Berarti produksi meningkat kan? Lalu benih unggul. Produktivitasnya 9 ton, sampai 10 ton. Minimal 8 ton, kita belikan benih dan bagikan secara gratis,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga mengoptimalkan lahan rawa hingga 800 ribu hektare, sehingga total peningkatan luas tanam mencapai sekitar 1,3 juta hektare.
Strategi kelima adalah ekstensifikasi melalui pencetakan sawah baru seluas 200 ribu hektare. Keenam, penguatan infrastruktur air dengan pembangunan dan revitalisasi 61 bendungan serta rehabilitasi jaringan irigasi.
Ketujuh, modernisasi pertanian melalui penggunaan teknologi seperti alat mesin pertanian dan drone yang dinilai mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil hingga dua kali lipat.
Kedelapan, reformasi kelembagaan dilakukan melalui evaluasi dan rotasi pejabat serta penertiban distribusi pupuk agar lebih tepat sasaran.
Kesembilan, intervensi pasar dilakukan dengan memperkuat peran Perum Bulog dalam menyerap gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram.
“Langkah ini terbukti mampu menjaga kestabilan harga gabah di tingkat petani sekaligus meningkatkan cadangan beras pemerintah,” kata Amran.
Ia menegaskan, berbagai strategi tersebut telah menunjukkan hasil nyata dengan peningkatan produksi beras nasional sebesar 4,07 juta ton atau 13,29 persen pada 2025.
“Kalau digabung semua ini, berarti ada tambahan tanam sekitar 1,5 juta hektare. Dikalikan produktivitas rata-rata, kenaikan produksi sekitar 4 juta ton,” katanya.
“Itu sesuai dengan data Badan Pusat Statistik, Food and Agriculture Organization, dan United States Department of Agriculture. Kalau ada yang mau protes, ya protes itu ke FAO, protes ke Amerika (USDA), protes ke BPS,” tambahnya.
Selain produksi, cadangan beras pemerintah juga mencatat rekor tertinggi. Hingga pertengahan April 2026, stok mencapai 4,8 juta ton, jauh meningkat dibandingkan sebelumnya.
“Di Bulog adalah dulu maksimal selama Republik Indonesia merdeka, stoknya (CBP) maksimal 2,6 juta ton. Hari ini 4,8 juta ton, sebentar lagi 5 juta. Hampir dua kali lipat,” ujarnya.
Pemerintah menegaskan seluruh capaian tersebut diraih tanpa impor beras medium, melainkan sepenuhnya ditopang oleh produksi dalam negeri.
