Pintasan.co, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan pagi ini. Rupiah dilaporkan menembus level psikologis Rp18.001 per dolar AS, menandai salah satu posisi terlemah dalam pergerakan mata uang nasional sepanjang tahun 2026.

Pelemahan rupiah terjadi setelah dalam beberapa hari terakhir mata uang Garuda terus bergerak di tren negatif. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah telah melemah hingga kisaran Rp17.878 per dolar AS dan sempat menyentuh level Rp17.926 per dolar AS.

Pelaku pasar menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Penguatan dolar AS di pasar global, meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional, serta tingginya permintaan valuta asing menjadi faktor yang membebani pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Level Rp18.001 per dolar AS juga menjadi perhatian pelaku pasar karena menembus batas psikologis baru setelah sebelumnya rupiah berkutat di rentang Rp17.000 hingga Rp17.900 per dolar AS dalam beberapa pekan terakhir.

Sejumlah ekonom menilai stabilitas nilai tukar akan sangat bergantung pada respons kebijakan moneter, kondisi neraca perdagangan nasional, serta perkembangan ekonomi global dalam beberapa waktu ke depan. Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau pergerakan pasar untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan volatilitas yang berlebihan.

Meski mengalami tekanan, fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor. Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan terus memperkuat koordinasi guna meredam dampak pelemahan rupiah terhadap sektor riil dan daya beli masyarakat.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Pulihkan Nama Baik Dua Guru Luwu Utara yang Dipecat karena Bantu Honorer