Pintasan.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok di Pasar Sederhana, Senin (20/4/2025). Hasilnya, ditemukan kenaikan harga minyak goreng MinyaKita di pasaran, terutama di luar jalur distribusi resmi.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa harga MinyaKita bisa mencapai Rp21.000 per liter karena mekanisme distribusi yang terbagi dua, yakni melalui Perum Bulog dan pasar bebas.

“Distribusi yang melalui Bulog tetap dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter dan tersedia di mitra retail resmi yang ditandai dengan poster,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat masih bisa mendapatkan harga sesuai HET jika membeli melalui jaringan resmi Bulog. Namun di luar itu, harga sangat bergantung pada distributor dan mengikuti mekanisme pasar.

“Kami melihat di lapangan, harga bisa bervariasi antara Rp19.000 hingga Rp21.000 per liter karena mengikuti mekanisme pasar,” katanya.

Menurut Farhan, keterbatasan porsi distribusi dari Perum Bulog menjadi salah satu faktor yang membuat stabilisasi harga belum optimal, terutama saat terjadi gangguan pada distribusi pasar bebas.

Selain itu, hasil dialog dengan para pedagang menunjukkan masih adanya kendala untuk menjadi mitra Bulog, seperti persyaratan administrasi dan kewajiban pembayaran purchase order (PO) secara tunai yang dinilai memberatkan pedagang kecil.

Sebagai langkah tindak lanjut, Pemkot Bandung berencana menurunkan petugas untuk membantu pedagang dalam proses administrasi agar dapat bergabung sebagai mitra Bulog. Di sisi lain, pengawasan distribusi juga diperketat melalui koordinasi dengan Satgas Pangan, kepolisian, dan TNI.

“Operasi pengawasan terus dilakukan untuk memastikan suplai berjalan lancar dan tidak ada penimbunan. Jika ditemukan pelanggaran, akan ditindak tegas oleh aparat penegak hukum,” tegasnya.

Baca Juga :  Seleksi Capim dan Dewas KPK Memasuki Tahap Akhir, 20 Nama Dikirim ke Presiden Jokowi

Berdasarkan data di lapangan, kebutuhan minyak goreng di Kota Bandung mencapai sekitar 13.500 karton per minggu. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen dipasok oleh Bulog, sementara sisanya dipenuhi melalui distributor pasar bebas.