Pintasan.co – PT Pertamina (Persero) menyatakan masih terus mengupayakan pembebasan dua kapal tanker yang tertahan di kawasan Teluk Persia akibat dampak konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, mengatakan hingga saat ini kondisi kedua kapal masih belum berubah, sementara perusahaan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
“Masih dengan posisi yang sama. Kami terus berkoordinasi dan konsultasi juga dengan pemangku kepentingan terkait, ya, termasuk Kementerian Luar Negeri,” ujarnya di Jakarta, Kamis.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk KBRI Tehran, yang turut membantu upaya pembebasan dua kapal tersebut, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Pertamina, lanjut Arya, terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz yang dinamis, sembari berharap kondisi segera memungkinkan kapal untuk melintas dengan aman.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan pihaknya terus menjaga komunikasi dengan kru kapal guna memastikan keselamatan awak.
Selain berkoordinasi dengan pemerintah, Pertamina melalui anak usahanya Pertamina International Shipping juga menjalin komunikasi dengan pihak asuransi dan pemangku kepentingan lainnya.
“Sehingga, apabila suasana atau situasi ini sudah memungkinkan, maka kapal tersebut kami harapkan bisa segera melewati Selat Hormuz,” ujar Baron.
Diketahui, kedua kapal tanker tersebut telah tertahan sejak awal Maret 2026 akibat penutupan jalur pelayaran strategis tersebut. Hingga kini, berdasarkan data pelacakan, Pertamina Pride berada di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi, sementara Gamsunoro berada di perairan dekat Dubai, Uni Emirat Arab.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri memastikan bahwa pihak Iran telah merespons positif permintaan agar kapal dapat melintas dengan aman. Namun demikian, proses negosiasi dengan otoritas setempat masih berlangsung di tengah ketegangan kawasan yang belum mereda.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan bahwa kapal-kapal yang tertahan masih harus melalui tahapan negosiasi sebelum dapat melanjutkan perjalanan.
